Rabu, 05 November 2014

-

Terimakasih ketulusannya,
Insya Allah yang aku berikan juga tulus.

Rabu, 08 Oktober 2014

(Belum Selesai)

Untuk laki-laki dengan senyum menyesatkan,
Yang ada begitu dekat, namun begitu jauh,
Terlanjur kucintai, namu sudah dimiliki yang lain.
Kau menyembuhkan luka, kemudian menorehkan yang baru.
Dan kali ini, aku sudah muak berpasrah.

Senin, 19 Agustus 2013

Mengaku

Dengan putus asa aku mengaku,
"Aku rindu," desahku.
Tanpa seulas senyum kau membisu,
aku hanyalah hantu,
dalam hatimu yang beku itu.

Rabu, 05 Juni 2013

I Wonder Why


Juni 2012 adalah awal pertemuan kita. Dan dalam satu tahun yang kacau balau ini, cintaku padamu masih saja sama.

****

Kenyataan membuatku kesal. Kenyataan bahwa aku sudah tak berati apa-apa lagi untukmu, bahwa keberdaanku sudah tidak lagi memberi cahaya pada gelapnya bayangan dalam pikiranmu. Dan cintaku tak akan lagi mencapai hatimu.

Tapi aku bertanya,
dan berharap,
nanti ketika kita berbicara lagi, entah apapun subjeknya, kau akan merasakan kepingan rasa yang dulu selalu kau rasakan saat berbicara denganku. Karena aku tahu bahwa perasaanku tentangmu tak pernah pergi, tapi masih menghuni retakan hatiku yang kau hancurkan.


****

Mungkin kita tak akan pernah tahu, apa artinya kamu untukku, dan apa artinya aku untukmu.
Karena kamu adalah langit biru tak berawan, langit malam berbintang, supernova, galaksi bima sakti yang indah.

Ketika aku hanyalah....

Seorang gadis yang tak lebih penting dari satu tetes air di lautan, seorang gadis yang selalu bersembunyi di dalam hujan dan mencandui luka.
Dan, kamu tak akan pernah tau, bagaimana satu tetes air di lautan, selalu mencintai galaksi bima sakti.
Dan mungkin aku tak akan pernah yakin, bagaimana sang galaksi, selalu menjaga tetes air di lautan.

Senin, 22 April 2013

Hati ini akhirnya marah

Satu tahun lalu sebelum kau datang, tak akan pernah aku kira bahwa aku bisa mencintai seseorang yang belum sempat aku miliki begini dalamnya. Tak pernah kukira aku bisa terus menanti seseorang yang sudah jelas menyakiti hati.

Sepuluh bulan yang lalu tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mencintaimu. 

Delapan bulan yang lalu aku mengira kita saling memberikan cinta yang tulus untuk satu sama lain. 8 bulan yang lalu aku kira hidupku akan menjadi indah selamanya. Bodoh. Terlalu muluk dalam berekspektasi. Saat kau datang, tak pernah sekalipun aku curiga bahwa kau akan meninggalkanku dengan cara yang sebegitu jahatnya. Tanpa alasan, tanpa salam perpisahan.

Saat kau ucapkan kata penuh sayang itu, tak pernah sekalipun hatiku mendeteksi kepalsuan dalam nada bicaramu, tak sedikitpun tersirat kebohongan dalam mata gelapmu. Tidak ada satupun ucapan selamat tidur darimu yang terlihat tanpa ketulusan. Tidak ada secuil kepalsuan yang tersirat dalam setiap perhatianmu yang agak berlebahan namun membuat nyaman itu.

Kubuka pintu hati yang telah lama terkunci ini, hanya untukmu seorang. KAMU DAN TAK ADA YANG LAIN di dalam hatiku yang sudah lama diisi kehampaan ini. Hanya kamu  yang mengisi setiap ruangan, setiap sudut yang ada dalam hatiku.

Lalu tanpa pamit, tanpa tanggung jawab. Kau pergi dan menjatuhkan hatiku disembarang tempat.
Kini setiap kata yang kau ucap memenuhi otakku, menyesakkan hatiku. Dengan nafas tersengal aku berusaha mempertahankan cintamu yang sudah tak ada. Tapi asal kau tahu saja, hatiku keras, sekali mencinta, sulit untuk diubah. Jadi jika kau tanya bagaimana perasaanku untukmu, jawabannya masih sama dengan perasaanku ketika kau masih lelaki dengan bahu nyaman tempat aku bersandar yang dulu itu, hanya ada sedikit amarah dalam perasaan itu.

Beberapa bulan yang lalu saat hati ini kau robek tanpa belas kasih, kukira aku akan melupakanmu sebentar saja. Tapi ternyata cintaku padamu terlalu dalam. Asal kamu tahu saja, berbulan-bulan aku menunggumu dalam penderitaan serta kepedihan, dengan keyakinan bahwa, entah bagaimana caranya, kau akan kembali dan semuanya akan baik-baik saja. Dan pikiran lain akan merasuki otakku bahwa aku menghabiskan waktuku dengan sia-sia. Ada perang di dalam jiwaku. Perang antara melupakan dan menunggu. Tapi sekuat apapun keinginanku untuk melupakan, menunggu akan selalu menang.

Kini setelah berbulan-bulan kau menyakiti hatiku. Setelah aku berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Setelah aku mengahibaskan air mataku menangisimu. Setelah melewatkan tengah malamku dengan terbaring dalam gelap dan sunyi. Aku masih merasakan perih yang sama. Saat aku menitipkan hatiku padamu, aku benar-benar mempercayakannya. Kukira kau bukan pemain hati seperti lelaki lain.

Anjing! Lain kali akan kupastikan dulu apa isi hatimu sebelum aku menitipkan hati.

Tengah malam saat hati sedang marah
dan dunia menambah amarah di dalamnya.
 Ditulis dalam keadaan setengah tidur, mungkin.

Sabtu, 20 April 2013

Bintangnya digantikan oleh air mata



Dengan mata sedihmu kau menatapku,
Dan hatiku ingin memberi tahumu bahwa suatu hari nanti
Ketika kau terbangun dipagi hari, entah pagi itu hujan atau cerah
Suara tetesan hujan maupun sinar matahari pagi akan menyadarkanmu,
Bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hari itu mungkin bukan hari ini, mungkin besok,
Atau hari-hari lain setelahnya.

Dengan mata sedihmu kau menatapku,
Dan ragaku berusaha meneriakan keyakinan untukmu,
Bahwa luka-luka dikulitmu sebenarnya indah dan berarti.
Luka itu adalah bagian dari dirimu. Dan kamu berarti untukku.

Dengan mata sedihmu kau menatapku,
Dan setiap tetes air mata yang berjatuhan ke pipimu menghancurkan hatiku.

Dengan mata sedihmu kau menatapku,
Dan aku ingin bilang bahwa suatu hari nanti semua rasa sakit itu akan hilang.

Tapi dengan mata sedihku aku menatapmu,
Saat segenap ragaku berbicara padamu untuk tak bersedih,
Aku pasti berdusta.

Karena ketika dua pasang mata sedih kita saling bertatapan,
Kita berdua tahu bahwa luka adalah candu.

Dan ketika jemari lesu kita berusaha untuk saling menggapai,
Jarak akan selalu terentang menghalanginya untuk betaut.

Lalu dengan matamu yang berbinar dipenuhi air mata kau berbicara,
Kita tak dapat lagi menolong satu sama lain.

Kamis, 18 April 2013

Duka Dalam Gitarmu


Malam ini saja,
Aku mohon bantulah aku
menghapus duka.
Petiklah gitarmu itu,
dan nyanyikan aku lagu penghantar tidur.
Sebaitpun cukup.
Agar aku bisa terlelap dengan tenang.
Dan mungkin saja,
esok pagi saat ayam jantan berkokok,
kau akan terbangun
dengan cinta dan rindumu yang menggebu kepadaku.
Seperti dulu.  

Minggu, 24 Maret 2013

Maret; Kisah Ini Sudah Basi

“Do I ever cross your mind? ‘Cause you’re on mind all the time... I can’t believe how unfair life is, sometimes...”
  
Maret, bulan dimana cerita tentangmu sudah basi. Sudah terlalu lama dan usang untuk ditangisi apalagi diperbaiki. Ceritamu bukan lagi cerita sendu. Tak perlu lagi aku menangisi kepergianmu yang hingga saat ini masih belum kumengerti. Ceritamu kini hanya tinggal kenangan masa lalu yang dihiasi komedi getir.
  
Luka itu masih ada. Nyatanya waktu tidak menghapus luka sepenuhnya, hanya mengurangi rasa sakitnya agar derita itu tak terlalu lama.
  
Aku mencintaimu, begitu dalamnya hingga lautpun cemburu.
   
Tapi bahkan segugus bintang yang bersinar pucat di atas ragaku tahu, bahwa aku tak mungkin terus menunggu cintamu yang sepertinya tak akan pernah kembali lagi untuk hatiku. Aku melihat wajahmu di angkasa, bersinar indah namun temaram. Sepasang mata indahmu menyiratkan kebahagiaan yang membuatku sedih. Kebahagiaan itu kini tak bisa kau bagi-bagikan denganku. Kebahagiaan kita bukan lagi milik bersama.
  
Langit yang kukuh di atas bumi kita ini seakan-akan menelanjangi pikiranku. Setiap insan melihat apa isinya dari dalam mataku. Entah bagaimana, semua orang seakan-akan menyesali akhir sendu dari kisah kita. Kisah yang bahkan membuat pohon-pohon yang berdiri dengan tegap di atas tanah iri.
Kenapa tak ada kata perpisahan diakhir cerita kita? Terlalu banyak kata-kata yang tak sempat terucapkan pada kisah ini...
   
Tapi tak ada yang perlu aku tangisi lagi. Sudah kubilang. Cerita ini bukan lagi cerita sendu.

“The hope is fading from my lips,
When I kiss you with goodbye,
Now when you let go of our last embrace,
Please don’t look me in the eye..................”

Maret 2013.