Satu tahun lalu sebelum kau datang, tak akan pernah aku kira bahwa aku bisa mencintai seseorang yang belum sempat aku miliki begini dalamnya. Tak pernah kukira aku bisa terus menanti seseorang yang sudah jelas menyakiti hati.
Sepuluh bulan yang lalu tak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mencintaimu.
Delapan bulan yang lalu aku mengira kita saling memberikan cinta yang tulus untuk satu sama lain. 8 bulan yang lalu aku kira hidupku akan menjadi indah selamanya. Bodoh. Terlalu muluk dalam berekspektasi. Saat kau datang, tak pernah sekalipun aku curiga bahwa kau akan meninggalkanku dengan cara yang sebegitu jahatnya. Tanpa alasan, tanpa salam perpisahan.
Saat kau ucapkan kata penuh sayang itu, tak pernah sekalipun hatiku mendeteksi kepalsuan dalam nada bicaramu, tak sedikitpun tersirat kebohongan dalam mata gelapmu. Tidak ada satupun ucapan selamat tidur darimu yang terlihat tanpa ketulusan. Tidak ada secuil kepalsuan yang tersirat dalam setiap perhatianmu yang agak berlebahan namun membuat nyaman itu.
Kubuka pintu hati yang telah lama terkunci ini, hanya untukmu seorang. KAMU DAN TAK ADA YANG LAIN di dalam hatiku yang sudah lama diisi kehampaan ini. Hanya kamu yang mengisi setiap ruangan, setiap sudut yang ada dalam hatiku.
Lalu tanpa pamit, tanpa tanggung jawab. Kau pergi dan menjatuhkan hatiku disembarang tempat.
Kini setiap kata yang kau ucap memenuhi otakku, menyesakkan hatiku. Dengan nafas tersengal aku berusaha mempertahankan cintamu yang sudah tak ada. Tapi asal kau tahu saja, hatiku keras, sekali mencinta, sulit untuk
diubah. Jadi jika kau tanya bagaimana perasaanku untukmu, jawabannya
masih sama dengan perasaanku ketika kau masih lelaki dengan bahu nyaman tempat aku bersandar yang dulu itu, hanya ada
sedikit amarah dalam perasaan itu.
Beberapa bulan yang lalu saat hati ini kau robek tanpa belas kasih, kukira aku akan melupakanmu sebentar saja. Tapi ternyata cintaku padamu terlalu dalam. Asal kamu tahu saja, berbulan-bulan aku menunggumu dalam penderitaan serta kepedihan, dengan keyakinan bahwa, entah bagaimana caranya, kau akan kembali dan semuanya akan baik-baik saja. Dan pikiran lain akan merasuki otakku bahwa aku menghabiskan waktuku dengan sia-sia. Ada perang di dalam jiwaku. Perang antara melupakan dan menunggu. Tapi sekuat apapun keinginanku untuk melupakan, menunggu akan selalu menang.
Kini setelah berbulan-bulan kau menyakiti hatiku. Setelah aku berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Setelah aku mengahibaskan air mataku menangisimu. Setelah melewatkan tengah malamku dengan terbaring dalam gelap dan sunyi. Aku masih merasakan perih yang sama. Saat aku menitipkan hatiku padamu, aku benar-benar mempercayakannya. Kukira kau bukan pemain hati seperti lelaki lain.
Anjing! Lain kali akan kupastikan dulu apa isi hatimu sebelum aku menitipkan hati.
Tengah malam saat hati sedang marah
dan dunia menambah amarah di dalamnya.
Ditulis dalam keadaan setengah tidur, mungkin.
